Sabtu, 23 Desember 2017

Menunggu



Aku pernah menunggu, dan aku membenci itu. Pernah suatu malam dingin, di bawah pohon kweni yang buahnya telah mengeluarkan aroma menyengat, hanya lampu taman dan bangku tua yang telah berlumut menemanku, menunggumu. Satu jam lebih, nyamuk tidak henti menciumku, wangi darah dari nyamuk yang kupukul menjadi parfum yang sangat istimewa, arti dari kesetiaan menunggu. Hingga saat kubuka ponsel jadul pemberian partai berkuasa tahun lalu itu, terdapat pesan singkat 
"Maaf sayang, gajadi aku sibuk." (1 jam 13 menit yang lalu.)

Aku tidak mau menunggu lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar