Aku pernah menunggu,
dan aku membenci itu. Pernah suatu malam dingin, di bawah pohon kweni yang
buahnya telah mengeluarkan aroma menyengat, hanya lampu taman dan bangku tua
yang telah berlumut menemanku, menunggumu. Satu jam lebih, nyamuk tidak henti
menciumku, wangi darah dari nyamuk yang kupukul menjadi parfum yang sangat
istimewa, arti dari kesetiaan menunggu. Hingga saat kubuka ponsel jadul
pemberian partai berkuasa tahun lalu itu, terdapat pesan singkat
"Maaf
sayang, gajadi aku sibuk." (1 jam 13 menit yang lalu.)
Aku tidak mau menunggu
lagi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar