Sabtu, 23 Desember 2017
Mata itu...
Dia datang, bersama senja yang tenggelam dengan cahaya jingga pudar di atas ombak pantai Selatan Jawa. Mata berbinar menyapa, indah sekali. Senja kala itu menyambut dengan tiga matahari, satu di langit, dan dua di dalam matanya.
Aku jatuh cinta...
Menunggu
Aku pernah menunggu,
dan aku membenci itu. Pernah suatu malam dingin, di bawah pohon kweni yang
buahnya telah mengeluarkan aroma menyengat, hanya lampu taman dan bangku tua
yang telah berlumut menemanku, menunggumu. Satu jam lebih, nyamuk tidak henti
menciumku, wangi darah dari nyamuk yang kupukul menjadi parfum yang sangat
istimewa, arti dari kesetiaan menunggu. Hingga saat kubuka ponsel jadul
pemberian partai berkuasa tahun lalu itu, terdapat pesan singkat
"Maaf
sayang, gajadi aku sibuk." (1 jam 13 menit yang lalu.)
Aku tidak mau menunggu
lagi...
Pagi dan Kisah yang telah Pergi
Pagi ini aku berkunjung ke taman, duduk di bangku tua tempat kita bercerita
dahulu, meskipun sekarang telah di grogoti rayap dan di penuhi lumut, tetap
istimewa bagiku. Entah apa yang membawaku kembali pada memori kita dahulu,
bersama fajar dan jutaan titik embun yang dingin, di bawah pohon kweni yang
sekarang telah di tebang, menyisakan onggok kecil batang yang rapuh. Memandang
ufuk timur, menanti rombongan merpati di udara, serta tertawa bersama, meski
hanya dengan kekonyolan kecil yang kita perbuat.
Aku ingat semuanya, dan aku bahagia, pernah bisa bahagia denganmu, meski
terkadang kenangan membawa cerita haru. Aku akan bawa cerita ini, serta akan
terus bersambung, dalam setiap tulisan-tulisan kecil yang kurangkum di buku
harianku.
Terimakasih, dan selamat sudah bertemu dengan cinta baru...
Ceritakan padanya, tentang bangku tua istimewa kita, dahulu...
Langganan:
Komentar (Atom)


