Minggu, 18 Februari 2018

Aku Bertahan


Kamu boleh membenciku karena mencintaimu, tapi maaf jangan pernah mengatur hatiku untuk berhenti mencintaimu. Hatiku tidak sebodoh itu untuk melepaskan cintanya.

Dan seperti kata Chairil Anwar;

...Tak satu kuasa melepas renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti

Hanya bisa Berkata


Aku tidak pernah kehabisan kisah untuk kuceritakan dengan rindu, yaitu dirimu. Suatu bentuk gugusan bintang yang berbinar dalam setiap kerlipan mata, serta senyum yang laksana bunga mawar yang merekah sempurna, amboi... indah sekali.
Dan kembali, aku hanya bisa berkata

Jumat, 16 Februari 2018

Rasa

Sungguh, perasaan yang kutanam telah tumbuh tinggi dan besar, tapi akan kamu apakan perasaan ini? kamu naiki dan berlindung dibawahnya, atau kamu potong perasaan ini berkeping-keping lalu kamu buat rumah di hati orang lain menggunakan potongan perasaanku? Aku tidak tahu jawabanmu, tapi kuharap kamu mengerti perasaanku.

Cinta?

Sekedar bertemu, berbahagia, lalu pergi, tanpa sedikit rindu, atau bayang kecil sekalipun, aku terhempas lalu terbujur kaku dalam perasaan yang sulit dicerna. Aku kembali mencinta, atau sekedar ingin tahu "Apa itu cinta?"
Selalu, setiap kali kita bertemu, waktu seakan ingin mengerti perasaanku, menggebu, berdebar, hingga jiwa hanyut terbawa air matanya sendiri, ke suatu tempat, yang sangat istimewa, hati.
Dan dalam sunyi, aku selalu mendoa, kalau tuhan mengizinkan perasaanmu berlabuh padaku, aku akan memanggilmu... Istri...

Kamis, 04 Januari 2018

Rindu


Bulan, sendu di atas tangisan awan
Malam berganti remang
Angin mengelabuhi lautan
Cinta, masih di ambang

Tulisan sajak pengingat kalbu
Bola matamu sayu menatapku
Menghadapi rindu
Hatiku lepas padamu

Samudera luas
Biru meriak
Memagar jauh lepas
Hatimu tak bergerak

Cinta?
Bagiku hanya lamunan belaka

5 Januari, kala rinduku di seberang lautan biru

Sabtu, 23 Desember 2017

Mata itu...


Dia datang, bersama senja yang tenggelam dengan cahaya jingga pudar di atas ombak pantai Selatan Jawa. Mata berbinar menyapa, indah sekali. Senja kala itu menyambut dengan tiga matahari, satu di langit, dan dua di dalam matanya.
Aku jatuh cinta...

Menunggu



Aku pernah menunggu, dan aku membenci itu. Pernah suatu malam dingin, di bawah pohon kweni yang buahnya telah mengeluarkan aroma menyengat, hanya lampu taman dan bangku tua yang telah berlumut menemanku, menunggumu. Satu jam lebih, nyamuk tidak henti menciumku, wangi darah dari nyamuk yang kupukul menjadi parfum yang sangat istimewa, arti dari kesetiaan menunggu. Hingga saat kubuka ponsel jadul pemberian partai berkuasa tahun lalu itu, terdapat pesan singkat 
"Maaf sayang, gajadi aku sibuk." (1 jam 13 menit yang lalu.)

Aku tidak mau menunggu lagi...

Pagi dan Kisah yang telah Pergi



Pagi ini aku berkunjung ke taman, duduk di bangku tua tempat kita bercerita dahulu, meskipun sekarang telah di grogoti rayap dan di penuhi lumut, tetap istimewa bagiku. Entah apa yang membawaku kembali pada memori kita dahulu, bersama fajar dan jutaan titik embun yang dingin, di bawah pohon kweni yang sekarang telah di tebang, menyisakan onggok kecil batang yang rapuh. Memandang ufuk timur, menanti rombongan merpati di udara, serta tertawa bersama, meski hanya dengan kekonyolan kecil yang kita perbuat.


Aku ingat semuanya, dan aku bahagia, pernah bisa bahagia denganmu, meski terkadang kenangan membawa cerita haru. Aku akan bawa cerita ini, serta akan terus bersambung, dalam setiap tulisan-tulisan kecil yang kurangkum di buku harianku.


Terimakasih, dan selamat sudah bertemu dengan cinta baru...


Ceritakan padanya, tentang bangku tua istimewa kita, dahulu...

Kamis, 23 November 2017

Bocah Hujan


Hujan mengambil jinggaku sore itu. Tidak ada senja, hari itu berakhir dengan warna kelabu.
Di antara lapisan-lapisan awan, hujan turun mengambil alih kehidupan di bumi, membawanya ke alam terdalam pada senyum yang damai.
Dan di antara semuanya, bayang tentangmu kembali hadir seiring bertambah derasnya hujan kala itu., lalu meluluhlantakkan fikiran, membaur bersama genangan kecil pada sudut jalan.

Tentang Tiada



Karya Kematian


Laut menenggelamkan impian
Di dasar kepedihan
Langit pun membawa harapan
Di puncak kekosongan

Tiada...
Tiada ombak menggeliat
Tiada awan bergerak, mati
Dan kosong baru saja menghantui

Rasakan, nikmatilah liangmu
Nikmatilah kekosongan yang sendu
Rebahkan impian dan harapan
Kelam baru saja mengambilmu

Tatap raga di sekitarmu, tertawalah
Alam kekal menunjukmu cepat bersua
Dan dunia? Hanya omong kosong belaka
Begitupula cinta...

Minggu, 28 Mei 2017

Kosong

Hidup bukan hanya tentang cerita bersama, ada saatnya kita ingin sendiri, berbisik pada kekosongan yang sendu, menunggu cerita baru pada langit mendung dan gerimis sore hari. Awan kelabu, serta burung-burung yang enggan terbang, dan belaian angin bercampur debu, kupasrahkan kosongku pada alam yang menanti datangnya kelam hingga kusadari, nikmatilah hidupmu meskipun sendiri memaksamu meninggalkan khayal tentang fana dan cerita cinta yang telah mati.